Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu- Minggu libur
Beranda » Artikel Terbaru » Biografi Pengarang Kitab Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali

Biografi Pengarang Kitab Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali

Diposting pada 29 January 2020 oleh saungmuhibbin

Ketika Kitab Ihya Ulumiddin diragukan oleh ulama

Nama panjang Imam al-Ghazali ialah Abu Hamid Zainal Abidin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad at-Tusi. al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 hijriyyah (1058 M) dan wafat pada tahun 505 hijriyyah (1111 M). Abu Hamid ini dikenal sebagai al-Ghazzali dengan konsonan rangkap z.

baca artikel lainnya : imam ghozali

Dijuluki al-Ghazzali karena bapaknya adalah seorang penenun wol dan menjualnya miliknya di wilayah Tus. Versi lain juga menyebut bahwa namanya ialah al-Ghazali tanpa konsonan rangkap z. al-Ghazali sendiri merujuk kepada nama salah satu perkampungan di kota Tus, Ghazalah. Nama al-Ghazali ini yang kemudian dianggap paling benar di sebagian akademisi yang meneliti sejarah hidup imam al-Ghazali.

Jika lebih kita memperhatikan tentang Imam Al-Ghazali maka bukan hanya sebagai pribadi tapi lebih jauh tentang pemikiran dan budaya arab-islam. Ribuan koleksi perpustakaan yang ada di timur-tengah salah satunya koleksi terbesarnya adalah karya sang imam.

Pertanyaan sederhanya muncul “jika seorang imam al-ghazali tidaklah hadir dengan buah karyanya, apalah jadinya dunia pemikiran dan kebudayaan arab-islam? Atau pertanyaan lain jika hilang semua buah karya yang sangat monumental itu adakah yang kurang dari dunia pemikiran dan kebudayaan arab-islam?”.

Meski karyanya mencapai empat ratusan seperti yang pernah dihitung oleh pakar-pakar yang menulis biografinya,  ada tiga karya al-Ghazali yang sangat penting dan berpengaruh yaitu : kitab Ihya UlumudinTahafut al-Falasifah dan Mi’yar al-Ilm.  

Diantara banyaknya buah karya beliau yang sangat venomenal kita akan bahas satu diantaranya yang paling terkenal yaitu Kitab Ihya Ulumuddin.

Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin

Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin

Kalau tidak ada Kitab  Ihya Ulumuddin, tasawwuf dalam kebudayaan Islam tidak akan berkembang begitu pesat pasca al-Ghazali. Memang betul jika dilihat dari segi tema-tema pembahasan yang dikemukakan, kitab ini memiliki konten yang sama dengan kitab ar-Ri’ayah li-Huquq Allah karya al-Muhasibi dan kitab Qutul Qulub karya Abu Thalib al-Makki.

Demikianlah seperti yang pernah diamati oleh Ibnu Taymiyyah al-Harrani. Kendati demikian, nilai kitab al-Ihya bukan hanya terletak pada tema-tema pembahasannya namun juga cara penyajian dan mekanisme pengembangan materinya.

Al-Ghazali menjadikan ilmu muamalah juga sebagai ilmu yang menjelaskan tatacara pelaksanaan ritual-ritual seperti shalat, puasa, haji dan lain-lain secara spiritual. Karena itu, dalam kitab Ihya Ulumuddin ini, fikih bisa dikatakan dapat dibagi menjadi dua bagian; pertama, fikih yang mengatur ritualitas keagamaan secara fisik yang sangat birokratis dan kedua, fikih yang mengatur ritualitas keagamaan secara spiritual.

Dulunya ilmu tasawwuf, seperti yang banyak diamati oleh para orientalis, ditolak secara mentah-mentah oleh ahli fikih dan ahli hadis. Namun al-Ghazali menggunakan strategi jitu  dan efektif ketika memasukkan ilmu yang bukan berasal dari Islam tersebut ke dalam ilmu-ilmu keislaman sehingga ilmu tasawwuf layak disejajarkan dengan ilmu hadis dan fikih.

Penolakan buah karya Imam Al-Ghazali

Abul Hasan Ali bin Harzahim pernah meragukan “Ihya Ulumuddin”. Ia sempat berencana membakar salinan-salinan kitab tersebut, tapi urung setelah mimpi bertemu Rasulullah.

Satu hari seorang ulama besar di satu wilayah risau hatinya tak menentu, nafasnya yang turun naik karena menahan sabar, wajahnya yang adem karena ketawadhuanya berubah menjadi garang, sesekali ia memegang janggutnya yang mulai memutih lantaran satu sebab yang sulit untuk ia temukan jalan keluarnya.

Sebab itu adalah ia mendapatkan satu kitab yaitu Kitab Ihya Ulumuddin buah karya Al-Ghazali yang berdasarkan telaahannya dan penelitiannya penuh dengan hadis dhoif baik secar matan maupun sanad. Sehingga karena kekalutannya ia memfatwakan untuk memusnahkan kitab tersebut.

Dengan cepat fatwanya menyebar dan sebagian dari mereka yang memiliki salinan kitab tersebut menolak untuk memusnahkannya tapi karena ke’aliman, ke’zuhudan dan karisma sang ulama itu akhirnya mereka mengalah dengan berat hati akan memusnahkannya juga.

Maka segeralah berbondong-bondong mereka menuju tempat yang telah ditentukan sang ulama untuk memusnahkan kitab tersebut. Namun melihat kondisi yang makin petang akhirnya ia memutuskan proses pemusnahannya akan dilangsungkan esok hari.

Ketika malam belumlah terlalu larut tidak biasanya tiba-tiba sang ulama mengalami kantuk yang sangat berat yang tidak mampu ditahannya, ia mengalami seolah tulang-tulang tubuhnya tidak bisa diajak untuk menelaah kitab akhirnya ia pun terlelap tidur dengan begitu nyenyaknya.

Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi oleh Rasulullah SAW bersama sahabat mulia Sayyidina Abu Bakr Ashshidiq dan disampingnya ada Abu Hamid Al-Ghazali yang tidak lain adalah pengarang kitab Ihya ulumuddin yang selama ini mengusik ketenangan hidupnya.

Ketika hendak melangkahkan kakinya kepada Rasulullah SAW Al-Ghazali berkata kepada Rasulullah SAW : “orang ini Abul Hasan Ali bin Harzahim membenci dan memusuhiku. Jika masalahnya adalah benar apa yang ia sangkakan terhadap semua buah karyaku amak tentu aku bertaubat kepada Allah SWT dan sebaliknya jika aku benar maka masukan aku kedalam golongan yang mencintai sunnahmu ya Rasulullah SAW”.

Lalu rasulullah mengambil kitab Ihya Ulumuddin dan membuka-bukanya halaman demi halaman. Lalu Rasulullah SAW berkata “Demi Allah yang mengutus dan membimbingmu (kepada kebenaran), ini benar-benar sesuatu yang baik”.

Saat itu juga Rasulullah SAW memrintahkan untuk membuka baju Abul Hasan Ali bin Harzahim untuk menghukumnya dengan cambukan. Namun, saat cambukan kelima Sahabat Abu Bakr Ash-shidiq meminta kepada Rasulullah SAW untuk menghentikan hukuman itu.

“Demi Allah ya Rasulullah, ia Abul Hasan Ali bin Harzahim adalah orang yang telah menjaga Hadits dan Sunnahmu. Ia berusaha menjaga hadits mu sayangnya persangkaannya salah, ia orang mulia ya Rasulullah”.

Sejak itu pula berhentilah cambukan kepadanya dan saat itu juga ia terbangun dari tidurnya. Saat bangun ia merasakan sakit di dadanya tapi tidak ada luka bekas cambukan. Rasa sakitnya lalu hilang setelah beberapa hari kemudian ia bermimpi kembali bertemu Rasulullah SAW sedang mengusap-usap badannya.

Cerita ini sangat populer diriwayatkan dalam pelbagai versi. Salah satunya diabadikan dalam kitab Ta’riiful Ahyāi bi fadhaailil Ihyaai (1987) karya Zainuddin Al-Iraqi. Dalam kitab tersebut ia menyatakan keunggulan Ihya Ulumuddin:

Kitab Ihya Ulumuddin termasuk kitab yang paling agung dalam persoalan pengetahuan halal dan haram. Ia menghimpun hukum-hukum perkara lahiriah, dan memberikan landasan pemahaman seluk beluk dan rahasia-rahasianya. Kitab ini mendedahkan mutiara-mutiara indah. Menggunakan metode-metode moderatisme karena mengikuti ucapan imam Ali, ‘Sebaik-baik urusan umat ini adalah yang tengah-tengah, yang diikuti generasi selanjutnya dan orang yang berlebihan kembali padanya’.” (hlm. 9)

Kitab Ihya Ulumuddin yang sempat disangsikan oleh Abul Hasan Ali bin Harzahim sampai saat ini merupakan pegangan bagi kalangan penganut tasawuf amali.

Melalui kitabnya, Al-Ghazali dinilai mampu mendamaikan rasionalisme disiplin ilmu kalam yang ortodoks dengan operasionalisasi fikih terapan dan argumentasi filsafat yang mumpuni. Kitab ini oleh para ulama dianggap sebagai penanda puncak keemasan disiplin ilmu tasawuf amali.

Saking cemerlangnya Al-Ghazali, ada sebuah cerita yang menyebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah bertemu dengan Nabi Isa, dan ruh Imam Al Ghazali dipanggil untuk “dipamerkan”. Rasulullah bertanya kepada Nabi Isa apakah di antara umatnya ada ulama yang seperti Al-Ghazali.

“Ulamāu ummaty kaanbiyāi bani Isrāil,” demikian seloroh Nabi Muhammad yang artinya ulama-ulama di kalangan umatku setara dengan Nabi-nabi Bani Israel.

Bagikan informasi tentang Biografi Pengarang Kitab Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali kepada teman atau kerabat Anda.

Biografi Pengarang Kitab Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali | Saung Muhibbin Store

1 komentar untuk Biografi Pengarang Kitab Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali

  • danseis says:

    Selama ini dikabarkan Rasulullah adalah manusia yg ummi tidak bisa baca dan tulis, tp cerita di dlm mimpinya kok nabi membuka2 kitab Ihya Ulumiudin, lembar demi lembar….

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Temukan Kami
× Hubungi Kami
Sidebar Kiri
Kontak
Cart
Sidebar Kanan