Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu- Minggu libur
Beranda » Artikel Terbaru » Soekarno dan Peci Hitam

Soekarno dan Peci Hitam

Diposting pada 22 January 2020 oleh saungmuhibbin

Bagi kita orang Indonesia khususnya kaum muslim pastinya sangat tidak asing lagi dengan benda yang sering digunakan oleh kaum laki-laki ketika sedang ibadah sholat ataupun untuk acara-acara tertentu yang masih berbau religi. Yaitu Peci Hitam Polos yang umumnya terbuat dari bahan beludru.

Sejarah peci hitam sangat kental dengan pergerakan nasional bangsa Indonesia. Dalam hal ini, Bung Karno menjadi salah satu icon terkuat sebagai orang yang  memplopori peci hitam sebagai jati diri bangsa.

Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno bercerita bagaimana ia bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan. Di masa itu kaum cendekiawan pro-pergerakan nasional enggan memakai blangkon, misalnya, tutup kepala tradisi Jawa.

Jika kita lihat gambar dr. Wahidin Sudirohusodo (1852-1917) dan dr. Cipto Mangunkusumo (1886-1943) memakai blangkon, itu sebelum 1920-an. Ada sejarah politik dalam tutup kepala ini. Di sekolah “dokter pribumi”, STOVIA, pemerintah kolonial punya aturan: siswa “inlander” (pribumi) tak boleh memakai baju Eropa.

Maka para siswa memakai blangkon dan sarung batik jika dari ”Jawa”. Bagi mereka yang datang dari Maluku atau Manado, misalnya, lain. Bagi siswa asal Manado atau Maluku, yang biasanya beragama Kristen, boleh memakai pakaian Eropa: pantalon, jas, dasi, mungkin topi.

Dari sejarah ini, tampak usaha pemerintah kolonial untuk membagi-bagi penduduk dari segi asal-usul “etnis”dan “agama”. Maka banyak aktivis pergerakan nasional menolak memakai blangkon. Apalagi mereka umumnya bersemangat “kemajuan”, modernisasi.

Jadi penolakan terhadap kostum tradisi mengandung penolakan terhadap politik kolonial “divide et impera” dan penolakan terhadap adat lama. Lalu apa gantinya?

Untuk pakai topi seperti Belanda itu akan terasa menjauhkan diri dari rakyat. Juni 1921, Bung Karno menemukan solusi. Ia memilih pakai Peci Hitam Polos. Waktu itu ada pertemuan Jong Java di Surabaya.

Bung Karno datang dan ia memakai Peci Hitam Polos. Tapi ia sebenarnya takut diketawakan maka ia pun meyakinkan diri dan berkata pada dirinya sendiri “kalau mau jadi pemimpin, bukan pengikut, harus berani memulai sesuatu yang baru”.

Waktu itu, menjelang rapat mulai, hari sudah agak gelap. Bung Karno berhenti sebentar. Ia bersembunyi di balik tukang sate. Setelah meyakinkan diri sebentar, ia berkata kepada diri sendiri: “Ayo maju. Pakailah pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuk SEKARANG!!!”

Lalu ia pun masuk ke ruang rapat. “Setiap orang memandang heran padaku tanpa kata-kata”, kata Bung Karno mengenangkan saat itu.

Untuk mengatasi kekakuan suasana, Bung Karno pun bicara “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia dan “Peci Hitam Polos” dipakai oleh para pekerja dari bangsa Melayu dan itu asli kepunyaan rakyat kita’.

Baik dari sejarah pemakaian dan penyebutan namanya peci mencerminkan Indonesia: satu bangunan “inter-kultur”.

Maka tak mengherankan bila dari mana pun asalnya, agama apapun yang dianutnya, kaum pergerakan memakai peci. Kesimpulan bawah sesungguhnya peci itu bukanlah sebuah simbol agama, tapi merupakan simbol budaya dari bangsa Indonesia khususnya dan bangsa Melayu pada umumnya.

Dalam hal ibadah mengapa kebanyakan orang Islam mengenakan peci (yang laki-laki), itu dimaksudkan untuk menutup kepala dari tertutupnya rambut disaat sujud ketika sholat. Dan dibeberapa Negara memiliki penutup kepala sendiri yang dikenakan dalam sholat, seperti kain sorban oleh orang Arab, peci panjang orang Turki, bahkan di Indiapun juga berbeda.

peci-hitam-polos

peci-hitam-polos

Sejarah Songkok/Peci

Menurut Rozan Yunos dalam “The Origin of the Songkok or Kopiah” dalam The Brunei Times, 23 September 2007, songkok diperkenalkan para pedagang Arab, yang juga menyebarkan agama Islam. Pada saat yang sama, dikenal pula serban atau turban. Namun, serban dipakai oleh para cendekiawan Islam atau ulama, bukan orang biasa.

“Menurut para ahli, songkok menjadi pemandangan umum di Kepulauan Malaya sekitar abad ke-13, saat Islam mulai mengakar,” tulis Rozan Yunos.

Lucunya, orang-orang Arab yang dipandang sebagai penyebar Peci Hitam Polos atau songkok di tanah Melayu malah meninggalkan tradisi itu. Sehingga pengamat sejarah berspekulasi soal keberadaan peci Indonesia.

Di beberapa negara Islam, sesuatu yang mirip songkok tetap populer. Di Turki, ada fez dan di Mesir disebut tarboosh. Fez berasal dari Yunani Kuno dan diadopsi oleh Turki Ottoman. Di Istanbul sendiri, topi fez ini juga dikenal dengan nama fezzi. Paling mendekati adalah fezzi, yang pelafalannya “pechi” mirip dengan peci di Indonesia.

Di Asia Selatan (India, Pakistan, dan Bangladesh) fez dikenal sebagai Roman Cap (Topi Romawi) atau Rumi Cap (Topi Rumi). Ini menjadi simbol identitas Islam dan menunjukkan dukungan Muslim India atas kekhalifahan yang dipimpin Kekaisaran Ottoman.

Namun bentuk Peci Hitam Polos agak berbeda. Pada bagian atas peci memilik lipatan jahitan lebih kaku dibanding penutup kepala dari negara-negara Arab. Karenanya, ada yang menyebut bahwa peci hasil modifikasi blangkon Jawa dengan surban Arab.

Konon, Peci Hitam Polos merupakan rintisan dari Sunan Kalijaga. Pada mulanya beliau membuat mahkota khusus untuk Sultan Fatah yang diberi nama kuluk yang memiliki bantuk lebih sederhana daripada mahkota ayahnya, Raja terakhir Majapahit Brawijaya V.

Kuluk ini mirip kopiah, hanya ukurannya lebih besar. Hal itu agar sesuai ajaran Islam yang egaliter. Raja dan rakyat sama kedudukannya di hadapan Allah SWT. Hanya ketakwaan yang membedakan.

Ada pula yang berpendapat Laksamana Cheng Ho atau Zheng He/Hanyu Pinyin/Ma He/Ma San Bao/Haji Mahmud Shams (1371-1433) yang membawa peci ke Indonesia.

Peci berasal dari kata PE (artinya delapan) dan CHI (artinya energi), sehingga arti Peci Hitam Polos itu sendiri merupakan alat untuk penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru angin.

Lalu SONGKOK yang berarti KOSONG DARI MANGKOK. Artinya, hidup ini seperti mangkok yang kosong. Harus diisi dengan ILMU dan BERKAH . Sementara kata KOPIAH berasal dari KOSONG KARENA DI PYAH.  Maknanya: kosong karena dibuang (di pyah). Apa yang dibuang? Kebodohan dan rasa iri hati serta dengki yang merupakan penyakit bawaan syaitan.

Keabsahan kisah di atas masih perlu dipertanyakan tentunya. Yang jelas, peci merupakan pemandangan umum di tanah Melayu sejak abad 13. Saat Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di Madrasah Giri, ia membawa oleh-oleh peci saat pulang ke kampung halaman.

Jean Gelman Taylor, yang meneliti interaksi antara kostum Jawa dan kostum Belanda periode 1800-1940, menemukan bahwa sejak pertengahan abad ke-19, pengaruh itu tercermin dalam pengadopsian bagian-bagian tertentu pakaian Barat. Pria-pria Jawa yang dekat dengan orang Belanda mulai memakai pakaian gaya Barat. Menariknya, blangkon atau peci tak pernah lepas dari kepala mereka.

Ikon Nasional

Peci Hitam Polos memang khas umat Islam, tapi patut diingat peci juga ikon Nasional. Siapa pun berhak memakai peci sebagai lambang identitas Indonesia. Inilah yang digagas oleh Soekarno, sang Founding Father negeri ini.

Dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, sang penulis Cindy Adams menuturkan kisahnya begini… ‘Pemuda itu masih berusia 20 tahun. Dia tegang. Perutnya mulas. Di belakang tukang sate, dia mengamati kawan-kawannya, yang menurutnya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat.

Dia harus menampakkan diri dalam rapat Jong Java itu, di Surabaya, Juni 1921. Tapi karena ragu dia berdebat dengan dirinya sendiri. “Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?” “Aku seorang pemimpin.” “Kalau begitu, buktikanlah,” batinnya lagi. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat… Sekarang!”

Setiap orang terbelalak melihatnya tanpa bicara. Mereka, kaum intelegensia, membenci pemakaian blangkon, sarung, dan Peci Hitam Polos karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah.

Dia pun memecah kesunyian dengan berbicara: “…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”

Itulah awal mula Sukarno mempopulerkan pemakaian Peci Hitam Polos.

Nah, sekarang berbanggahatilah mengenakan peci karena ia adalah lambang jati diri bangsa untuk semua lapisan masyarakat.

Bagikan informasi tentang Soekarno dan Peci Hitam kepada teman atau kerabat Anda.

Soekarno dan Peci Hitam | Saung Muhibbin Store

Belum ada komentar untuk Soekarno dan Peci Hitam

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Temukan Kami
× Hubungi Kami
Sidebar Kiri
Kontak
Cart
Sidebar Kanan